Kilas Empat Musim di Tahun 2012

Tags

20120122-144710.jpg

Menjelang perayaan Imlek, yang juga perayaan menyambut musim semi, kilas 4 musim berkumandang melalui dawai The Butterfly Symphony Orchestra. Dalam format orkes kamar gesek didukung continuo harpsichord, muda-mudi ini membawakan “Four Seasons” Vivaldi secara lengkap didukung 4 solois biola – Aditya Kertarahadja, Gavrila Setiawan, Dary Mohammad Reiner, Yani Listiyani- yang masing-masing bertanggung jawab pada setiap musim di karya tersebut.

The Butterfly Symphony (TBS) yang didukung oleh 20 musisi muda berbakat tampil tak mengecewakan. Walaupun bisa disebut sebagai pagelaran amatir dari para taruna, namun nyatanya kualitas tetap mereka utamakan. Dibawah baton Rendy sebagai konduktor, musik ditampilkan dengan matang dan tergarap.

Continue reading »

Sejenak Mengintip Singapore Symphony

Tags

, , , ,

Lesunya kegiatan orkestra simfoni di Jakarta tampaknya tidak berpengaruh dengan Singapore Symphony Orchestra sebagai orkes kebanggaan kota singa tersebut. Itulah yang terlihat dalam konser Gala mereka Sabtu lalu di Esplanade Hall.

Tampil dalam format orkestra besar, SSO menjelajah karya romantik. Sebagai orkestra purnwaktu, SSO memiliki banyak kesempatan untuk menggali lebih banyak repertoar musik, dan tampaknya memang lebih berkonsentrasi pada repertoar standard orkestra. Didukung oleh musisi-musisi internasional, SSO membawakan karya Harold en Italie dari Hector Berlioz dengan solis viola Zhang Manching dan Piano Concerto no. 1 dari Johannes Brahms dengan solis piano Andreas Haefliger. Continue reading »

Profesionalisme di Amatir

20120112-011100.jpg

~sedikit tersentil tweet @rinimarnoto, flautist Indonesia

Dengan berkurangnya pertunjukan di dunia musik profesional saat ini, khususnya di Jakarta, memang membuat dunia musik klasik menjadi lesu. Namun demikian, ada satu hal yang berkembang saat ini, pertunjukan dari musisi amatir. Agaknya ini menjadi sebuah berita gembira bagi pecinta seni musik, bahwa dunia musik tidak mati suri, pun dengan banyak elemen musisi muda yang terlibat di pertunjukan musisi amatir, kita menyadari bahwa regenerasi pemusik terus berjalan.

Namun demikian, profesionalisme ini yang seringkali kurang ada di antara mereka. Menurut Marini, ada sebagian yang merasa dapat mengadakan konser dan menjual tiket namun seringkali tidak dibarengi dengan kualitas permainan musik yang memadai.

Lantas sekarang bagaimana membangun profesionalisme tersebut?

Continue reading »

A New Alternative Other Than Caroling

Tags

,

Caroling was once a new activity taken up by choirs in Indonesia, and was taken into quite a considerable extent by shopping malls, especially in Jakarta. But after a few years caroling, this short musical may become a new alternative. And as we know, the musical theater industry is blooming in Jakarta.

A short musical about Christmas in malls? Would be exciting… Here is a clip of it made by ImprovEverywhere

 

Menonton Latihan Perlu Prosedur

Tags

,

Dari tulisan sebelumnya kita mengetahui bahwa menonton latihan bisa jadi peristiwa pembelajaran yang amat memperkaya. Namun pertanyaan berikutnya adalah semudah itukah untuk menonton sebuah latihan?

Choir Rehearsal

Memang harus diakui bahwa tidak semua latihan dibuka untuk umum. Ada beberapa yang memang atas permintaan sang musisi, tidak membuka latihannya untuk umum karena berbagai alasan. Namun banyak dari latihan musik untuk kelompok besar seperti paduan suara dan orkes bisa dibuka untuk umum pun semua tergantung dari empunya latihan (musisi) ataupun penyelenggara.

Pun banyak gedung pertunjukan ternama di dunia membuka latihannya untuk disaksikan penikmat musik ataupun pelajar musik sebagai bagian dari bakti sosial mereka untuk masyarakat. Karena seperti banyak penikmat maupun mereka yang berkecimpung dalam dunia musik ketahui, musik yang dimainkan bukan hanya sekedar hasil akhir, tapi juga sebuah proses belajar dan berkembang yang tidak berhenti. Maka dari itu banyak penyelenggara yang membuka latihan untuk disaksikan umum, termasuk menjual tiket yang relatif lebih murah sebagai tanda masuk.
Continue reading »

Menonton Latihan, Ayo!

- Bagian 1 dari 2

Entah apabila Anda pernah mencoba untuk menonton sebuah latihan (rehearsal) sebuah konser. Setiap konser baik itu perorangan maupun orkes besar biasanya akan mengadakan latihan, terutama latihan di tempat konser itu sendiri. Pada saat inilah seluruh pemain mengakrabkan diri dengan musik yang dimainkan, ruang yang akan dipakai dan permainan bersama kolega (dalam hal ini musik kamar, ensemble, orkestra maupun paduan suara.

Menonton latihan sebenarnya bisa menjadi sarana pembelajaran yang sangat berguna, baik bagi penonton, musisi atau siapapun yang memiliki rasa ingin tahu yang lebih terhadap musik. Musik yang ditampilkan di depan panggung adalah sebuah hasil akhir, pun kita seringkali ingin tahu akan proses yang dialami para seniman di atas panggung untuk mencapai hasil akhir tersebut. Pun betapa kita sering menonton “behind the scene” dari sebuah pembuatan film untuk sedikit mengerti apa yang ada di dalam pikiran kru, sutradara dan para pemain kala itu.

Pun bagi seorang pelajar musik, menonton rehearsal juga bisa menjadi pembelajaran tersendiri, apalagi untuk seorang konduktor. Pelajar bisa mendalami apa yang ada di pikiran pemain, penyanyi, dirigen dan juga proses apa saja yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Continue reading »

Busana yang Memicu Diskusi

Tags

,

Baru saja berbincang dan menulis tentang pakaian di atas panggung musik klasik, ternyata menemukan sebuah isu yang kurang lebih mirip di belantika musik klasik di Amerika Serikat beberapa bulan lalu.

Yuja Wang, seorang pianis belia yang sedang menanjak, mendapat banyak sorotan mengenai pemilihan pakaian yang ia gunakan ketika menjadi solois Rachmaninoff Piano Concerto No.3 di Hollywood Bowl musim panas lalu.

Busana tersebut sebenarnya terlihat seperti layaknya busana pesta yang mulai trend juga di Jakarta (dress dengan tanktop dan short skirt), namun sering dianggap “kurang pantas” untuk dikenakan di atas panggung musik klasik.

Baca artikel Washington Post di sini.

Ada pula satu artikel yang ditulis di blog Inside the Classics oleh konduktor residennya, Sarah Hicks, ketika ia mendapat kritikan melalui email mengenai rambutnya yang panjang dan terkesan “mengganggu” penonton.

Mungkin adalah pilihan tepat bagi seorang pengulas musik untuk tidak terlalu banyak berkomentar pada busana yang dikenakan, tapi lebih kepada musik yang ditampilkan? Yah, mungkin saja, tapi baiklah kita melihat melalui konteks yang luas. Toh musik tidak berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi bagi masyarakat.