Career in Bass Guitar, Why Not? 17 May 2008
Posted by mikebm in Jokes, instrument.add a comment
Are you planning to study bass guitar and make a living from it? Go ahead!
Taken from http://users.bentonrea.com/~sasquatch/musicjokes/index.html
As a birthday gift a father decided to get his son a bass guitar and some lessons. After the first lesson the boy’s father asked him how his lesson went: “It went great Dad, I learned to play on the first 5 frets on the top string!”
The father applauded his son’s efforts. The next week his father asked about the second lesson: “It was great Dad, today I learned to play the first 5 frets on the second string!”
His father once again applauded his son. The next week his father again asked about his lesson: “I blew it off . . . I had a gig!”
Gig = a performance job…. Many bassists do rely a lot on their first two strings hehehe
Picture:
NYTimes Putus Bernard Holland, Sang Kritikus 15 May 2008
Posted by mikebm in Classical music, music media, news.Tags: bernard holland, nytimes
2 comments
~ dari musicalamerica.com via soundsandfury.com
Kabar mengejutkan kali ini datang dari New York Times, salah satu harian paling dipandang di Amerika Serikat. Harian dengan 1300 orang lebih karyawan ini merencanakan rasionalisasi. Dan salah satu yang terkena rasionalisasi itu adalah kritikus musik tetap harian tersebut Bernard Holland.
Setelah mengabdi selama 27 tahun di harian tersebut, akhirnya kritikus musik ‘utama’ AS ini lengser mulai 23 Mei ini. Keputusan ini menyisakan Allan Kozinn dan Anthony Tomassini sebagai dua kritikus musik tetap harian yang dapat disebut sebagai harian nasional ini, dibantu kritikus freelance Steve Smith dan Vivien Schweitzer.
Bernard Holland sendiri adalah salah satu kritikus musik paling terkemuka di tanah Paman Sam. Karena bekerja di harian terkemuka, pandangan dan kritiknya pun menjadi referensi bagi banyak pelaku musik di Amerika Serikat.
Pujian-pujiannya pun menjadi kunci keberhasilan banyak musisi muda, dan dapat dibuktikan dari banyaknya musisi yang mencantumkannya sebagai bagian dari riwayat singkat perjalanan bermusik mereka.
Holland juga memberikan perhatian lebih bagi perkembangan musik kontemporer. Tulisannya mengenai debut musik baru ini juga sering mendapat sorotan. Sampai-sampai pernah jadi bahan lelucon bahwa salah satu dari 10 ketakutan komposer-komposer adalah apabila debut karyanya di New York direview oleh Holland.
Apapun fenomena ini, bisa menandakan dua hal yang bertolak belakang. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah kemunduran dan pertanda kurangnya komitmen media massa terhadap perkembangan musik seni. Sedang yang lain beranggapan bahwa hal ini adalah cikal-bakal regenerasi yang lumrah terjadi.
Apapun itu, mari kita simak kelanjutannya…
~ Namanya terpampang di website-website musisi, sampai-sampai susah mencari foto dan profil aslinya.
Baroque, Where Art Thou? 14 May 2008
Posted by mikebm in Classical music, Opinion, Uncategorized.Tags: baroque, Contemporary music, music in jakarta, period instrument
5 comments
There have been lots of music concerts this year. In Jakarta, there were thirty to fifty concerts this year. Quite a large sum for the city.
As written in earlier posts, Jakarta musical scene has also explored many new, contemporary music. Music is indeed moving forward.
But as I stated earlier in this post, presenting and focusing more on contemporary music is going to victimize other music styles. It came clear that this phenomenon has reduced baroque music performance. Yes, we are losing baroque music.
This is absolutely not the fault of contemporary music, nor its advocates. This is merely because people, musicians and listeners, are less willing to let go other musical styles, especially romantic music.
Nowadays, romantic music is viewed as the music that speaks more to the listeners than other musical styles. Relevancy is its current power. Many people identify themselves with romantic music rather than other musical styles.
Romantic music are used in movies, commercials and many other things. More music uses ‘romantic style’ techniques and sound. So, romantic music is actually receiving less blow than other musical styles.
Meanwhile, people finds baroque music less enjoyable. Many people consider them as too simple, boring, and even too complicated as to fugal works.
Eventually, less and less people connect with baroque music. Many people here in Jakarta do not even realize the role which baroque music plays in the development in music. While others only consider baroque music as study repertoire and never include them in concerts.
Moreover, there is also a trend in performing baroque music which has sprung up in the last couple decades, especially in Europe and America, called period music performance. This practice is a response of a notion to return to the original forms and sounds of the baroque period which is very different from ours three centuries later.
Baroque music played on modern instruments is not considered as proper as it was four decades ago. Now every baroque musicians in the western hemisphere tries to emulate the authentic sound of baroque by playing on baroque instruments which is also different from today’s instruments. And in my personal opinion, baroque music played in its original instruments sound more natural, if not better, than played on modern instruments.
Here, we are craving for quality instruments, let alone quality period instruments. As result, Jakarta has never experienced the true colors, delicacy and beauty of baroque music.
Music will be extremely beautiful if it is given the proper setting. But in Jakarta, we have never got the privilege to enjoy baroque music in its dimension. Eventually, baroque music is left out giving way to other style, eventhough it is never enjoyed in its true beauty.
Baroque music holds an inescapably important role in music. We have to do it justice.
So, when somebody asked, “Baroque, where art thou?”, musicians and music lovers alike may answer, “Here we are”.
10 Tahun Lalu, 10 Tahun Kemudian 13 May 2008
Posted by mikebm in Renungan.Tags: reformasi
3 comments
Kepada para mahasiswa
yang merindukan kejayaaan
Sebuah catatan kebanggan
di lembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
demi mempersembahkan jiwa dan raga
untuk neg’ri tercinta
1998
10 tahun berlalu.
10 years have gone by.
Lagu ini terdengar di jalan-jalan di Indonesia
This very song was sung on the streets of Indonesia
Kala itu reformasi berdengung,
Reformation was proclaimed,
Puluhanribu turun ke jalan,
Tens of thousands marched to the streets,
Memenuhi 8 lajur sepanjang beberapa kilometer
Filling 8-lanes streets for kilometres
didukung dengan bahan makanan dan doa dari mereka yang ada di rumah
supported by logistics and prayers from those at home
Satu rezim jatuh
a regime fell
Ufuk timur akan bercahaya
A dawn had to come
2008
10 tahun kemudian,
10 years later,
BBM masih langka
fuel is scarce
Pangan masih barang mahal
food is a luxury
Kita masih menunggu cahaya terbit itu
10 years later, a dawn has yet to come
Apakah semangat itu masih di sana?
Is the spirit still there?
Merdeka
~ waktu itu saya cuma seorang anak kecil yang hanya terkagum melihat nasionalisme yang begitu besar. Kala iu hanya bisa memandang kagum sepupu-sepupuku yang turun ke jalan menembus barikade polisi dan militer. Masih tergambar jelas bayang-bayang ribuan orang mahasiswa dan massa lainnya berbenteng manusia…
Pict:
Chose a Woman Concertmaster, At Last! 13 May 2008
Posted by mikebm in Classical music, Musicians, news, orchestra.Tags: concermaster, Vienna Statsoper, Wiener Philarmoniker
add a comment
The all men orchestra from Vienna is choosing a woman violinist to become its first woman concertmaster in its entire one a half century old history. Yes, Albena Danailova is going to lead Vienna Staatsoper Orchestra which members are also the members of the Vienna Philharmonic Orchestra, as stated by musicalamerica.com.
The orchestra is considered as the finest in the world and has only recently invite women to join their forces, in 1997. No women had ever conducted Vienna Philharmonic till January 2008, Simone Young conducted. Moreover, there never has been any Asians to join this band which are deemed unable to produce Wiener Philharmoniker sound. But now it has Seiji Ozawa, a Japanese condutor as the state opera music director.
Women issues down, one to go. Is there any Asians interested in joining the ensemble?
For more info: Vienna State Opera in wiki and Wiener Philharmoniker also in wiki.
Pictures:
Seniman Pantaskah Dihargai? 12 May 2008
Posted by mikebm in Art, Music, Opinion.add a comment
~refleksi setelah diskusi dengan pianistaholic
Banyak orang berkata bahwa seni adalah makanan bagi jiwa, menawarkan ketenangan batin, merevitalisasi hidup dan sebagainya. Dan itu adalah benar. Tapi seringkali pandangan seperti ini yang terkadang malah merugikan seniman itu sendiri, termasuk pemusik.
Ini benar-benar terjadi dan pandangan seperti di atas sepertinya menjadi justifikasi bahwa seniman termasuk pemusik layak untuk hidup susah dan kurang dihargai.
Bagaimana itu mungkin? Mari kita telusuri pemikirannya.
Seni sebagai sebuah entitas telah diagungkan selama berabad-abad, bahkan sebelum sejarah ditulis. Seni sudah diangkat menjadi kebutuhan ekspresi bahkan makanan bagi jiwa, menyegarkan pikiran, penjaga peradaban dan lain-lain. Itu semua tidak salah dan benar adanya.
Tapi seringkali perspektif macam ini malah menjadi batu sandungan. Betapa banyak pelatih sukses yang berpendapat bahwa mereka yang beruntung dan bahagia adalah mereka yang menyenangi dan menikmati pekerjaannya.
Seniman langsung digolongkan ke dalam tipe ini. Kebanyakan seniman memilih menjadi seniman karena mereka mampu melakukan berseni dan yang kedua mereka pastinya sangat menyukai proses berseni itu sendiri dan karenanya dia adalah orang yang beruntung dan bahagia.
Sekarang mari kita kupas mengapa orang bekerja banting tulang. Kebanyakan dari mereka ingin mencari kabahagiaan yang mungkin dapat terpenuhi sedikit banyak dari uang yang dihasilkan oleh bekerja tersebut. Ya, tujuan utamanya mencari kebahagiaan hidup.
Nah sekarang kebanyakan orang memakai logika terbalik yang aneh. Kebanyakan berpikir bahwa apabila kebahagiaan sudah dapat terpenuhi, untuk apa materi banyak-banyak. Toh tujuan akhirnya tercapai, yang penting bahagia.
Pembaca sekalian, seni bukanlah barang murah dan kita semua menyadarinya. Betapa banyak modal yang harus mereka relakan menyediakan medium untuk menghasilkan sebuah karya, baik tenaga, materiil, waktu serta pikiran.
Inilah yang menyebabkan lebih banyak seniman yang hidup susah. Banyak di antara seniman yang berkualitas sekalipun harus berjibaku dengan dunia materiil ini.
Hal yang sama juga terjadi pada para pendidik yang dengan slogan ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ terus terinjak menjadi ‘pahlawan yang sepertinya tidak pernah berjasa’. Juga pada atlet-atlet senior yang telah mengharumkan nama bangsa tetapi hidup melarat di masa tuanya.
Untuk dapat terus berkarya bukan hanya kepuasan pribadi saja yang menjadi perhatian namun penghargaan, apresiasi atau respek seperti apa yang dapat diberikan kepada para seniman.
Seringkali seniman tidak mendapat respek yang layak, bahkan terkadang ucapan terimakasih pun tidak keluar untuk musisi yang sudah dengan tanpa pamrih meluangkan waktu dan tenaga. Lupakan soal apresiasi dalam bentuk materi, apabila ucapan terimakasih saja sulit diutarakan.
Inilah yang menyebabkan bekerja untuk seni adalah sesuatu yang berat. Kadang berekspresi harus terbentur dengan selera masyarakat yang ngoyo, dan banyak hal lainnya. Kurangnya apresiasi juga yang menyebabkan banyak orang berpikir dua kali untuk terjun ke dunia seni. Ini juga yang menyebabkan seni menjadi profesi langka di negara yang minim apresiasi seperti Indonesia. Masih kita saksikan pembajakan bertebaran di mana-mana.
Padahal seni tidak akan ada apabila tidak ada yang mampu mengapresiasi. Seni tidak bisa berdiri hanya dengan bermodalkan seniman-seniman nekad. Seni tidak eksis apabila publik yang membutuhkannya juga tidak eksis. Seniman tidak akan bertahan tanpa ada publik yang sadar bahwa seni dibuat bukan hanya demi seni itu sendiri melainkan juga bagi masyarakat di sekeliling.
Untuk itu mari kita apresiasi seniman-seniman kita dengan lebih baik. Ketika seni kuat dan diapresiasi, di saat itulah lahirnya suatu identitas, bukan hanya bagi seniman, tetapi juga bagi manusia secara umum.
2 Men Playing Flute, Not Flutes 10 May 2008
Posted by mikebm in Classical music, Funny&Interesting.Tags: Ariel Zuckermann, Eyal Ein-Habar, flute, Israel Philharmonic
add a comment
Just found it very amusing a while ago. Taken from soundsandfury.com.
We often see four hands piano, but how about this one? Two flutists of the Israel Philharmonic Ariel Zuckermann (fingers), and Eyal Ein-Habar (embouchure) playing Bach.
Any comments?
Unik dan Indah Menutup Musim 9 May 2008
Posted by mikebm in Chamber music, Classical music, Concert reviews.Tags: Chamber Music Series, Erasmus Huis, franz schubert, maurice ravel, paul janes, piano trio, rebecca gilliver, Shirly Laub
4 comments
Indah dan unik, itulah yang dapat diucapkan ketika menyaksikan konser piano trio yang diawaki pianis Paul Janes, Shirly Laub pada biola dan Rebecca Gilliver pada cello. Pagelaran di Erasmus Huis ini adalah juga penutup musim pagelaran Chamber Music Series yang dimulai sejak Oktober 2007 lalu.
Konser musik kamar ini mengetengahkan dua ‘mahakarya’, masing-masing Franz Schubert dan Maurice Ravel, persis seperti yang dikatakan Laub pada pengantar pagelaran dengan bahasa Indonesia.
Trio pada Es mayor, op. 100 D.929 dari Franz Schubert membuka konser malam itu. Karya yang terdiri dari 4 bagian ini berdiri kokoh sebagai karya mandiri di sepanjang babakpertama konser. Karya-karya dari Schubert cukup menjadi idola pada banyak pagealaran musik kamar, terutama karena penuturan musik yang akrab dan hangat.
Tetapi, kali ini trio ini menyajikan penyampaian yang amat berbeda. Mereka bertiga di sepanjang karya ini mengambil perspektif penuturan orang ketiga, sebuah gaya penyampaian yang berbeda dengan interpretasi Schubert dengan perspektif ‘aku-kamu’ yang terkesan akrab dan juga lazim.
Biola yang minim vibrato menimbulkan kesan jauh dan tertahan. Sedang cello yang resonantif dan terkesan intim menimbulkan kesan kedekatan yang tidak kalah kasat mata. Pendengar dibawa kepada dua titik berbeda dengan serentak.
Namun pendengar tidak dibiarkan terombang-ambing dalam ketidakpastian. Secara istimewa piano berperan sebagai perajut tektur di antara kedua atmosfer yang bertolakbelakang tadi. Romantik tetapi tidak over-romantis, klasik tapi tidak terlalu sistematis. Seluruhnya tercipta dari ketiga instrumen itu.
Beda, tetapi dibawakan dengan sangat meyakinkan. Akhirnya menambah perbendaharaan approach untuk musik karya komposer asal Vienna itu.
Babak kedua giliran karya Ravel yang disuguhkan. Trio untuk biola, cello dan piano dalam A minor juga terdiri dari 4 bagian. Pada karya ini cita rasa Ravel sungguh terasa, dibarengi pendekatan orkestrasi tercitra jelas. Karya ini sangat menantang dan berbobot, baik teknis maupun interpretasi.
Cello dan biola sering harus bermain pada register yang sama, bahkan unisono. Tidak berhenti sampai di situ, part string juga dipenuhi dengan arpeggio, trill, tremolo, glisando, bahkan harmonik. Presisi yang amat tinggi dituntut dalam mengetengahkan karya ini. Warna-warni tone yang kaya karakter juga adalah tuntutan karya ini.
Seni pianistik juga dirambah secara ekstensif oleh Ravel. Deretan kordal temperamental muncul berdampingan dengan kecemerlangan manis harmoni impresionistik Prancis yang juga kaya aroma. Nuansa yang mengawang pun tetap harus dimainkan dengan sangat terukur.
Trio ini nyaris tanpa cela memadupadankan seluruh aspek virtuositas yang mungkin diharapkan Ravel. Virtuositas pun menyatu untuk menciptakan keindahan personal maupun kolektif yang tertutur di setiap instrumen. Energi yang mengalir pun konstan terpancar di sepanjang karya yang ditulis tahun 1914 ini tanpa dibatasi aspek teknis.
Sayang sempat terdengar suara ponsel yang menyeruak tepat setelah satu bagian usai seperti menjawab ketegangan yang diciptakan di akhir karya tersebut pada tangga nada yang sama. Kontan penonton tertawa, begitu juga musisi yang mendapati kebetulan itu. Sungguhpun demikian, itu sangat mengganggu kontinuitas nadi musik yang disuguhkan.
Disuguhi rentetan musik yang matang, tak pelak sambutan riuh pun membahana di gedung pertunjukan yang dipenuhi penonton. Satu karya Ravel kembali dibawakan untuk menjawab apresiasi penonton.
Unik dan indah, sebuah jalan yang istimewa menutup musim. Karenanya mari kita tunggu musim Chamber Music Series berikutnya.
Ricardo Muti Ke Chicago Symphony 6 May 2008
Posted by mikebm in Classical music, conductor, news, orchestra.Tags: chicago symphony orchestra, direktur musik, ricardo muti
5 comments
Kabar baru mengenai konduktor dunia baru saja tiba. Ricardo Muti, konduktor asal Italia kelahiran 66 tahun lalu resmi ditunjuk sebagai direktur musik Chicago Symphony Orchestra (CSO) yang termasuk jajaran orkes kelas satu Amerika. Ia akan memulai tugasnya di musim pertunjukan 2010-2011, selama 5 tahun.
Sebelumnya, dari 1991-2006, orkes ini dipimpin konduktor yang juga pianis Daniel Barenboim. Selama 4 tahun, setelah Barenboim menyatakan bahwa ia tidak akan melanjutkan kontraknya, Chicago Symphony telah berusaha mencari pengganti posisi music director tersebut.
Muti sendiri mengundurkan diri dari posisi sama di orkes Teatro Alla Scala Milan di tahun 2006 lalu setelah terjadi ketegangan antara dirinya dengan seluruh musisi dan jajaran kepemimpinan yang berbau politis.
Sejak saat itu ia banyak menjadi konduktor freelance di berbagai orkes dunia, termasuk CSO yang terakhir bermain bersamanya sekitar 30 tahun lalu.
Info lebih lanjut, dari berbagai harian Amerika Serikat NYTimes, Chicago Tribune, dan Chicago Sun-Times.
Picture from Chicago Tribune
Commercial Music, Quo Vadis? 6 May 2008
Posted by mikebm in Art, Music.Tags: advertisement, commercial, jingle, musik iklan
4 comments
Spend quite some time in front of television each day. Tens or even hundreds of commercials come and go within those hours. But it is quite strange that I did not find any significant commercial jingle in those commercial breaks.
I still remember a time when people have their favourite jingles memorized and even a great number of people who really remember a tune from one or two commercial breaks which aired on TV.
But it seems like there are less and less people who can sing out their favourite jingle tune. Some even face trouble to name one. Is it the people who get too busy switching channels or is it just the jingle?
Composing commercial jingle is not an easy task to do. Catchy tunes are needed to make the music stand out in the crowds. Composer has to restraint him/herself from composing too complicated, too long music. Yet, the music has to suit the product it promotes. Composing jingle is indeed an intelligent work.
For me, jingle music is currently in its decline. It is not as significant as it used to be years back. No more catchy tunes we used to hear a decade ago. No more easy-to-remember lyrics which come with the tunes.
Nowadays, commercials are stressing more in tag-lines rather than in melodic lines. Music has become more and more subsided and more spoken tag-lines has taken the center stage.
Many good tag lines are used in quality commercials. But we are not in the position to disagree that more catchy or even strange tag-lines are used in commercials.
So, it is not a composition problem or whether the composer is capable enough to compose good jingle music. But it is the industry’s demand.
Perhaps the industry is now allured to tag-lines both good and bad ones. They deemed music as less effective in reaching people causing a drop in the usage of great tunes in commercial jingle. Jingle is now just a background music, an ambiance.
It is undeniable that music is a symbolic language, as is day-to-day language. Interpretation may vary more in musical terms, but it is actually the beauty of music. It can make those nuances that cannot be conveyed by spoken words. An advantage, if both the composer and the commercial director can bring music up to its full potential.
Now it is up to composer and the audience to put music back to highlights and convince the industry that commercial music is called a jingle because it is a catchy tune that rings people minds to specific products, not just an easy-to-forget background music.
We are still waiting for more significant, quality commercial music a.k.a. jingle
~ maybe I should try composing jingle…. hmmm….
Picture:











