jump to navigation

Aula Simfonia: Sebuah Kemegahan di Titik Mula 20 October 2009

Posted by mikebm in Classical music, Concert reviews, Performance Venues.
trackback

~foto masih dalam proses request ke panitia, karena tidak boleh foto di dalam gedung, sudah temu muka dan kirim email tapi panitia sama sekali belum merespon…

Aula Simfonia6

Latihan Kamis

Memang benar, akhirnya Jakarta memiliki sebuah ruang konser yang representatif. Ya, Aula Simfoni Jakarta akhirnya dibuka untuk umum sejak Sabtu kemarin melalui rangkaian Konser Inaugurasi yang sedianya akan dilaksanakan sampai dengan tanggal 24 Oktober ini.

Gedung mulai dibangun sejak tahun 2004 ini membuktikan diri bahwa kualitasnya memang satu kelas di atas rata-rata gedung serupa dengan kapasitas sekitar 1200-an tempat duduk di Jakarta. Dengan kapasitas yang nyaris penuh malam itu terbukti bahwa aula tersebut memiliki akustik yang baik.

Seluruh gedung yang didominasi warna coklat kayu memang terasa hangat di mata. Tidak berhenti di situ saja, pelapisan kayu pun juga menjadi media refleksi suara yang baik. Yang istimewa dari aula yang didesain oleh Pdt. Stephen Tong ini adalah hampir seluruh interior dilapisi oleh lapisan kayu, dari langit2, dinding dan juga lantai. Semuanya ini menambah reverberasi gedung secara keseluruhan. Alhasil, suara dari panggung pun terdengar hangat dan tetap terjaga detailnya di kejauhan dan hampir sama di setiap sudut.

Dihiasi foto2 besar para komposer kenamaan musik, dan juga patung-patung keemasan semakin mempertegas pengaruh banyak gedung-gedung konser di dunia. Patung-patung keemasan yang mengisi setiap sudut ruang konser mengingatkan penulis pada Boston Symphonic Hall dan Wiener Musikverein.

Di setiap sudut yang sama juga terpampang foto-foto komposer besar musik yang namanya terus kita dengar sampai dengan hari ini. Dengan ukuran yang cukup besar dan mampu dilihat oleh kebanyak penonton gedung, lukisan-lukisan ini mengingatkan kita semua pada gedung konser di Konservatorium Moskow yang juga memampangkan banyak imaji komposer-komposer terkemuka.

Tidak lupa dengan organ pipa yang yang saat ini masih langka ditemukan di Indonesia. Dilengkapi dengan 3.217 buah pipa suara, organ pipa ini menjadi organ pipa pertama yang melengkapi sebuah ruang konser di Indonesia, menjadikan gedung konser ini benar-benar lengkap seperti kebanyakan gedung konser dunia.

Konser Inaugurasi

Jessie Chang, seorang pianis kelahiran Taiwan yang membawakan ‘Emperor’ Piano Concerto no.5 dari Beethoven, bermain dengan luar biasa, penuh gelora, dengan tone dan warna suara yang juga sangat kaya. Jessie sendiri mengambil pendekatan karya yang cukup konvensional namun selalu dieksekusi dengan tepat dan meyakinkan, menjadikan karya terdengar dengan karakter yang mendalam namun dekat dengan pendengarnya.

Jahja Ling secara umum menguasai benar orkestra malam itu. Di bawah pimpinannya, orkes terdengar sangat hidup dan bersemangat seakan berubah menjadi orkes yang begitu bersinar. Seksi tiup yang sangat berhati-hati dan penuh perhitungan dipadu dengan seksi gesek yang bermain lepas namun tetap terarah; semuanya merupakan bentuk nyata dari kepemimpinan Jahja yang memandu seluruh karya dengan apik.

Di babak kedua giliran Magnificat dari Bach dan Stephen Tong yang memimpin. Sebuah pemilihan karya yang luar biasa, kali ini orkes didukung Jakarta Oratorio Society dan 5 orang soli. JOS tampil dengan lebih dari 100 personel, jumlah yang sebenarnya terlampau banyak untuk sebuah karya jaman barok. Akan tetapi sangat terasa jelas kemegahan karya itu, walaupun harus dikatakan untuk memimpin gerombolan musisi dan penyanyi sebanyak itu sangat tidak mudah. Stamina dan presisi pun bisa menjadi korban.

Solois pun tampil dengan prima, Chen Yong Chen dan Dan Decker adalah beberapa di antaranya. Huang Wei dan Anna Koor serta Elsa Pardosi mengambil pendekatan karya yang cukup unik. Tampil dengan teknik bel canto yang mencolok, sungguh Huang memiliki instrumen yang baik walau sedikit kurang cocok untuk karya Bach.

Namun demikian secara umum, banyak yang ditunggu dari Aula Simfonia Jakarta. Apalagi dengan bertambahnya usia, gedung yang memang penuh dengan unsur kayu ini akan semakin matang secara akustik. Dan yang pasti dengan adanya Aula Simfonia Baru ini, kita berharap semakin semarak dunia musik sastra kita. Semoga.

3.217

Comments»

21. rahasia - 17 November 2009

bagus sih bagus tapi tiketnya mahal