~ Dari majalah Variety http://www.variety.com/article/VR1117984962.html?categoryid=15&cs=1&nid=2562
Broadway adalah salah satu nama jalan utama di New York. Jalan besar ini membelah langsung pulau Manhattan dari selatan sampai utara dan telah ada semenjak New York bernama New Amsterdam. Jalan ini adalah pusat seni teater populer komersial di New York dan Amerika.
Di sepanjang jalan ini berdiri tigapuluh sembilan buah gedung teater besar, masing-masing dengan kapasitas minimal limaratus kursi. Tidak jarang pula yang berukuran 1400 penonton, jumlah yang sama dengan satu-satunya Balai Sarbini di Jakarta.
Belum terhitung puluhan gedung teater lebih kecil yang tersebar di sekitar Broadway yang dikenal dengan nama Off-Broadway dan Off-off-Broadway. Lihat Broadway on wikipedia.
Broadway adalah magnet tersendiri bagi kota ini. Industri teater pun bermunculan dari balik gedung-gedung ini. Industri yang bukan sekedar penghasil uang, tetapi juga sekaligus sebagai identitas budaya di pusat perekonomian dunia ini.
Banyak warga di Amerika juga berusaha untuk menonton salah satu pertunjukan Broadway apabila mereka sedang singgah ataupun berlibur ke kota tersebut. Banyak juga wisatawan mancanegara yang sengaja datang hanya untuk menonton pertunjukan di pentas besar tersebut.
Broadway pun juga menawarkan sisi lain dari dunia teater yakni teater musikal, sebuah genre yang diasuh secara kuat di pentas-pentas ini. Banyak legenda teater musikal terlahir dari panggung-panggung Broadway ini. Yang pasti, New York tidaklah sama tanpa teater-teater ini.
Namun sejujurnya terkaget juga setelah melihat artikel Variety yang tertera di link atas. US$ 5.1 milyar dihasilkan oleh segmen ini selama setahun terakhir, setara dengan Rp. 46 triliun. Sebuah angka yang sangat fantastis untuk sebuah industri hiburan teatrikal.
Perhitungan ini termasuk juga perhitungan uang yang mengalir masuk ke bisnis perhotelan, transportasi dan lain-lain dari turis-turis yang mengatakan bahwa menonton Broadway adalah tujuan utama mereka datang ke New York.
US$ 2.13 milyar adalah angka langsung hasil industri ini, tanpa digabung dengan hasil bidang-bidang lain yang kecipratan bisnis ini. 23 triliun rupiah juga bukanlah angka yang sedikit untuk penghasilan satu tahun dari 2006-2007.
Tiket yang terjual pun tidak sedikit. Duabelas juta lembar tiket terjual setiap tahunnya, dengan sekitar 65% adalah pembelian dari pendatang kota New York a.k.a wisatawan.
Teater sebagai budaya ternyata juga bisa menjadi industri tersendiri. Budaya ternyata bukan hanya bisa menjadi momok keuangan, namun ternyata juga dapat menjadi pundi pendapatan kota.
Budaya musikal New York pun juga telah menjadi sumber identitas megapolitan. Tujuh juta tiket ludes terjual untuk wisatawan, sungguh mantap.
Jakarta, megapolitan dengan jumlah penduduk yang sama dengan New York, ternyata belum mampu mengembangkan budaya urban sebagai daya tarik wisata. Belum lagi ditambah dengan potensi budaya tradisional yang kaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Sudah saatnya kita memiliki sebuah identitas budaya urban yang khas dan mengena di hati kebanyakan orang Indonesia. Dan alangkah beruntungnya apabila ternyata identitas itu dapat menjadi pundi-pundi devisa.
~ menjawab pertanyaan rio
Pictures:
Filed under: Information, Music, Opinion, musical theater , Broadway, musikal, new york, teater



Iyah,,kadang suka mikir… kenapa ya broadway bisa sbegitu terkenalnya? dari yang tadi nya cuma hiburan lokal sampe international culture gt,,,
Karena emang ditata apik sehingga mampu mmbuat banyak orang terbius, ataukah hanya pemikiran orang saja (maybe including me) yang masih menganggap western as a role model of ANYTHING… produk barat slalu dianggap “lebih” dibanding produk lokal,,,gengsi? probably…
mungkin gw juga termasuk yang “berpandangan barat”… tapi permasalahannya bukan karena kultur mereka lebih bagus ato lebih hebat. sama sekali bukan.
tapi mungkin karena mereka lebih peduli pada perkembangan budaya dan sejarah dan lebih mau memperkenalkan dan menjual produk budaya dan hiburannya….
kemaren liat di metro tv soal film meletusnya krakatao yang terbesar sampe gunungnya ilang… gunungnya di sini, korban juga orang lokal. tapi yang bikin film dan kisahnya orang inggris dan prancis…. haduh, muka mau taro di mana?
tampaknya kalimat terakhir post nya masih jauuuuuhhhhh sekaliii untuk dicapai…Bangsa ini harus memperbaiki apresiasinya terhadap seni. menurut gw orang Indo masih kurang banget. Terutama budaya negeri sendiri. Ironis.
ehm, gw juga nggak setuju populernya broadway disebabkan karena westernisasi. gw lebih setuju sama pandangan mike, meskipun ya pasti ada lah pengaruh Amerika sebagai negara adidaya yang penduduknya banyak sehingga broadway bisa sedemikian populer di dunia.
duh kapan ya bisa menginjakkan kaki di sana?
hi…Broadway musical itu kayak magic buat gue. Gue gila banget sama pertunjukkan musikal, gak cuma Broadway loh (ini karena banyak pertunjukkan di pentaskan di Jalan Broadway NY), tetapi di West end juga ada (London), Bebagai negara pun juga ada seperti Jepang (bahkan mereka pentaskan dalam bahasa jepang) dan negara lainnya. Bahkan sekarang Malaysia dan Singapore negara terdekat kita juga sudah didatangi oleh musical dari broadway, west end dan Aussie cast.
Indonesia? hmmmm…belom ya?terakhir gue nonton di jakarta, balai kartini tahun 2005. Itu pun bukan kayak broadway musical tapi oke lah daripada gak ada. Bagaimanapun kalo nunggu musical broadway atau west end datg ke indo kayaknya kayak musti nunggu lamaaaaaaa banget. Nah Gue dan beberapa orang yg suka musical akhirnya membuat production lokal, bukan yg jor-joran
tapi at least 70 % lah. Hanya set panggung aja yg susah di sini.karena keterbatasan panggung. check di website kita ya…belum di perbarui hehehe http://www.broadwaymyway.com (promosi dikit)
next prodction adalah RENT di TIM tgl 5 dan 6 september 2008….hope BROADWAY MUSICAL STYLE juga berjaya di INDONESIA ya!!!! I LOVEEEEE MUSICAL
terimakasih bung irvan atas kunjungan ke blog ini dan usahanya untuk dunia teater musikal Indonesia….
ya saya sering dapat kabar bahwa di negara tetangga sering ada pertunjukannya, walaupun cuma touring beberapa saat. tapi saya sangat berharap mereka bisa datang ke sini. tentunya kita perlu gali lagi apa saja yang kurang dari audiens di Indonesia ini sehingga bisa siap juga menerima jenis kesenian ini.
menurut bung irvan sendiri apa yang kurang dari dunia teater musikal di Indonesia?
Sekedar informasi. Broadway musical sudah puluhan tahun lalu dimainkan kok di Indonesia, baik oleh orang lokal maupun expatriate. Tahun 1980-an saya pernah ikut serta dalam produksi yang diadakan oleh the Jakarta Players, sebuah grup teater bahasa Inggeris. Mutunya menurut saya cukup baik, karena banyak aktor2 lulusan sekolah teater di luar yang ikut main di dalamnya.
Waktu itu mainnya di teater JIS, ternyata ada poster2 produksi mereka. Sudah belasan atau puluhan. Dari West Side Story, Oklahoma, The Sound of Music, dsb. Tapi memang anak2 muda dulu gak seperti sekarang. Teater JIS tiap tahun mementaskan musical sejak berpuluh tahun lalu. Kualitasnya lumayan, buat standar kita dulu sudah luar biasa. Kostum, orkes lengkap dengan fasilitas gedung teater yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Entah sekarang. Tahun 1980 waktu saya masih kuliah di Yogyakarta, jurusan Inggeris Sanata Dharma tiap tahun mementaskan musical juga. Oliver, WSS, Fiddler on the Roof, dsb. Musical2 yang modern dari Lloyd Weber tidak dijual partnya, hanya disewakan. Jadi memang tiap pementasannya harus ada ijin khusus. Kalau yang klasik sudah lebih “dilepas”. Penyutradaraan dan setting Phantom atau Les Miz misalnya, tidak boleh lain dari yang standar. Di belahan dunia manapun kita nonton, sama. Franchised. Bagus, tapi mematikan kreativitas. Kalau WSS misalnya bebas, sepertinya kontraknya untuk musical yang top top sampai ke detil2nya, juga musical Disney, tidak boleh dipentaskan dengan cara lain.
Broadway bukan cuma musical lho. Dulu yang diutamakan hanya teaternya. Lalu muncul operette gaya Amerika yang serupa kabaret Jerman. Baru kemudian di Inggeris muncul gaya drama musik yang lebih merakyat dan pop (ingat perseteruan Handel dengan John Gay ??). Diikuti Amerika. Krn angin kapitalis, maka musikal lalu laris manis. West End sepertinya duluan deh dari Broadway. Drama Musical sekarang semua dialog dinyanyikan, seperti juga opera sekarang.
Kebetulan saya pernah tinggal dekat dengan Manhattan selama 2 tahun lebih. Tiap hari sekitar pulul 23 malam, stasiun subway penuh sesak dengan penonton yang baru bubar. Entah itu dari konser New York Philharmonic, MET Opera, NYCity Opera, Carnegie Hall, dan puluhan rumah musical sepanjang Broadway dan off Broadway. Fantastis. Sepanjang tahun. Kadang masih bisa ketemu pemeran2 utamanya di dalam subway. Mereka juga naik subway. Orang biasa. Seniman tapi tidak kayak celebrity di sini. Sempat nonton juga pertunjukan kesekian Miss Saigon dengan Lea Salonga. Dua tahun penuh dia tampil hampir tiap hari. Lagu yang sama, emosi yang sepertinya spontan, kualitas penampilan yang sama, semuanya sudah diset tanpa kejutan baru, dari malam ke malam. Kok bisa ya. Penonton tak tahu bosannya seperti apa si Lea. Luar biasa para penampil itu, membunuh kebosanan mereka dan berusaha tampil fresh setiap hari. Industri yang kadang-kadang kejam.