Eksperimen Kualitas, Pembuktian NSO 26 May 2008
Posted by mikebm in Classical music, Concert reviews.Tags: Aning Katamsi, balai sarbini, beethoven, carmen, harland hutabarat, hikotaro yazaki, ndaru darsono, nusantara symphony orchestra, sarah sweeting
trackback
Nusantara Symphony Orchestra (NSO) kembali menggelar konser rutin mereka di Balai Sarbini. Kali ini dengan tajuk “Heart and Passion” yang mengangkat dua karya besar dari Ludwig van Beethoven dan Georges Bizet.
Eksperimental, mungkin kata yang cukup tepat diangkat pada konser kali ini. Tepat satu tahun setelah mengeksplorasi karya Simfoni no.1 Beethoven, kali ini Hikotaro Yazaki menjelajah karya populer Simfoni No.5 dari komposer yang sama.
Simfoni selalu dianggap sebagai tonggak utama perkembangan komposer yang berkarya di Vienna ini. Sembilan buah simfoni ia lahirkan sepanjang hayatnya dan masing-masing menjadi titik kulminasi dan jejak perkembangan komposisinya dalam skala yang besar.
Karya ini ditulis Beethoven ketika sudah mencapai kematangan dalam berkarya. Saat itu musiknya telah mempunyai ciri khasnya tersendiri, warna suara tebal, teguh dan temperamental, sama seperti watak sang komposer sendiri.
Mengapa eksperimental? Sebab cukup jelas di mata penonton bahwa sang direktur musik, yakni Mr. Yazaki sendiri, telah membawa NSO maju selangkah lebih jauh. Dengan kharisma dan semangat, ia menahkodai orkes ini. Eksekusi cermat dan homogenitas telah terpancar baik. Kalimat pun terangkai dengan elegan dan rapi dengan intensitas yang terjaga di sepanjang karya, pencapaian yang tentunya bukan pekerjaan mudah bagi seluruh musisi, terutama bagi karya populer ini. Yang mungkin perlu diperhatikan adalah artikulasi setiap nada yang jelas dan juga temperamen khas Beethoven yang keras dan lugas.
Eksperimentasi juga adalah topik untuk karya Bizet. Kali ini maestro Yazaki mencuplik lagu-lagu dari opera Carmen karya seorang Prancis, Georges Bizet. Cuplikan kisah opera komikal tragis ini dibawakan dalam format orkestral penuh, suatu hal yang jarang di Indonesia, dan mungkin yang pertama bagi NSO dalam beberapa tahun terakhir ini. Cuplikan ini juga tetap mempertahankan alur cerita asli dari opera.

Mezzo-soprano Sarah Sweeting, sang Carmen, penuh karisma dan otoritas di atas panggung. Wanita gypsi Carmen menyala, penuh kepercayaan diri dan gairah semuanya dilibas dengan keyakinan tinggi disertai dengan kontrol dan proyeksi yang memukau. Sesaat kita percaya bahwa Sweeting yang asal Inggris ini sungguh adalah sang Carmen sendiri.
Soprano Aning Katamsi yang berperan sebagai Micaëla, membawakan peran ini dengan jernih. Untaian kalimat indah meluncur dengan terarah. Walaupun proyeksi suara Aning tidak sebesar Sarah namun manisnya suasana tersampaikan.
Harland Hutabarat pun juga dengan penuh wibawa membawakan peran bariton Escamillo. Harland juga mampu membingkai peran ini dengan semilir santai dan menyenangkan. Peran utama pria, Don Jose, jatuh kepada tenor Indonesia, Ndaru Darsono, yang juga aktif sebagai solis di berbagai konser.
Yazaki sendiri mengkomando dan menggendong orkes ini dengan penuh semangat dan karisma. Setiap kalimat ia bentuk dan arahkan dengan seksama sembari terus menginspirasi seluruh musisi dengan bahasa tubuh yang sepertinya tidak terbatas. Ia meramu rasa Spanyol dengan warna Prancis Bizet dengan seksama.
Secara umum, eksperimentasi Hikotaro Yazaki berhasil dengan gemilang. Selain berhasil memperluas gaya dan repertoire, jelas bahwa konser ini juga dibawakan bukan karena coba-coba, melainkan mengutamakan kualitas sebagai orkes profesional satu-satunya di Indonesia. Eksperimen? Ah, bukan. Ini adalah pembuktian kualitas NSO.


[...] Update: Laporan yang lebih menarik telah ditulis oleh MikeBM. [...]
Hoi Boz!! Gw juga dah tulis.. Lg nunggu jawaban koran.. hehe..
Salut ama semangat menulis lo!! Moga tertular ya..
ditunggu juga tulisan lo…. bang rothan…
Somehow i missed the point. Probably lost in translation
Anyway … nice blog to visit.
cheers, Cornstarch!!!