A Musical Promenade

Icon

walking down the path of love & life

Unik dan Indah Menutup Musim

Indah dan unik, itulah yang dapat diucapkan ketika menyaksikan konser piano trio yang diawaki pianis Paul Janes, Shirly Laub pada biola dan Rebecca Gilliver pada cello. Pagelaran di Erasmus Huis ini adalah juga penutup musim pagelaran Chamber Music Series yang dimulai sejak Oktober 2007 lalu.

Konser musik kamar ini mengetengahkan dua ‘mahakarya’, masing-masing Franz Schubert dan Maurice Ravel, persis seperti yang dikatakan Laub pada pengantar pagelaran dengan bahasa Indonesia.

Trio pada Es mayor, op. 100 D.929 dari Franz Schubert membuka konser malam itu. Karya yang terdiri dari 4 bagian ini berdiri kokoh sebagai karya mandiri di sepanjang babakpertama konser. Karya-karya dari Schubert cukup menjadi idola pada banyak pagealaran musik kamar, terutama karena penuturan musik yang akrab dan hangat.

Tetapi, kali ini trio ini menyajikan penyampaian yang amat berbeda. Mereka bertiga di sepanjang karya ini mengambil perspektif penuturan orang ketiga, sebuah gaya penyampaian yang berbeda dengan interpretasi Schubert dengan perspektif ‘aku-kamu’ yang terkesan akrab dan juga lazim.

Biola yang minim vibrato menimbulkan kesan jauh dan tertahan. Sedang cello yang resonantif dan terkesan intim menimbulkan kesan kedekatan yang tidak kalah kasat mata. Pendengar dibawa kepada dua titik berbeda dengan serentak.

Namun pendengar tidak dibiarkan terombang-ambing dalam ketidakpastian. Secara istimewa piano berperan sebagai perajut tektur di antara kedua atmosfer yang bertolakbelakang tadi. Romantik tetapi tidak over-romantis, klasik tapi tidak terlalu sistematis. Seluruhnya tercipta dari ketiga instrumen itu.

Beda, tetapi dibawakan dengan sangat meyakinkan. Akhirnya menambah perbendaharaan approach untuk musik karya komposer asal Vienna itu.

Babak kedua giliran karya Ravel yang disuguhkan. Trio untuk biola, cello dan piano dalam A minor juga terdiri dari 4 bagian. Pada karya ini cita rasa Ravel sungguh terasa, dibarengi pendekatan orkestrasi tercitra jelas. Karya ini sangat menantang dan berbobot, baik teknis maupun interpretasi.

Cello dan biola sering harus bermain pada register yang sama, bahkan unisono. Tidak berhenti sampai di situ, part string juga dipenuhi dengan arpeggio, trill, tremolo, glisando, bahkan harmonik. Presisi yang amat tinggi dituntut dalam mengetengahkan karya ini. Warna-warni tone yang kaya karakter juga adalah tuntutan karya ini.

Seni pianistik juga dirambah secara ekstensif oleh Ravel. Deretan kordal temperamental muncul berdampingan dengan kecemerlangan manis harmoni impresionistik Prancis yang juga kaya aroma. Nuansa yang mengawang pun tetap harus dimainkan dengan sangat terukur.

Trio ini nyaris tanpa cela memadupadankan seluruh aspek virtuositas yang mungkin diharapkan Ravel. Virtuositas pun menyatu untuk menciptakan keindahan personal maupun kolektif yang tertutur di setiap instrumen. Energi yang mengalir pun konstan terpancar di sepanjang karya yang ditulis tahun 1914 ini tanpa dibatasi aspek teknis.

Sayang sempat terdengar suara ponsel yang menyeruak tepat setelah satu bagian usai seperti menjawab ketegangan yang diciptakan di akhir karya tersebut pada tangga nada yang sama. Kontan penonton tertawa, begitu juga musisi yang mendapati kebetulan itu. Sungguhpun demikian, itu sangat mengganggu kontinuitas nadi musik yang disuguhkan.

Disuguhi rentetan musik yang matang, tak pelak sambutan riuh pun membahana di gedung pertunjukan yang dipenuhi penonton. Satu karya Ravel kembali dibawakan untuk menjawab apresiasi penonton.

Unik dan indah, sebuah jalan yang istimewa menutup musim. Karenanya mari kita tunggu musim Chamber Music Series berikutnya.

Filed under: Chamber music, Classical music, Concert reviews , , , , , , , ,

4 Responses

  1. Jane Pietra says:

    Hola juga mike..
    hehehe..Ini baru saja di baca review-nya…
    Membuat tak sabar menunggu musim Chamber Music selanjutnya nih.. :p

  2. mikebm says:

    wah thanx sudah dibaca….

    iya nih jadi pengen tahu juga musim depan seperti apa. kapan kita nonton bareng? hehe

  3. Roy Thaniago says:

    Mantap! Ngiri dehga bisa nonton. Untung terbayarkan dgn membaca artikel lo.

  4. mikebm says:

    terimakasih….

    wah gw mau dibayar…. hahaha :p

Leave a Reply

About A Musical Promenade

Sebuah foto denyut kehidupan musik klasik di dunia Timur, di Jakarta. Dari berbagai ulasan konser sampai seluk beluk benak dan masalah musisi di Ibukota...