A Musical Promenade

Icon

walking down the path of love & life

Meriah Variatif dan Bukti Konsistensi

Senang mendengar kembali The Voices Vocal Ensemble dalam sebuah konser publik di Jakarta. Konser tersebut bertajuk “Love, Life” dan diselenggarakan di pusat kebudayaan Jerman Goethe Haus di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Didukung delapanbelas orang vokalis, The Voices dipimpin konduktor tetap mereka Rainier Revireino di Minggu malam 6 April 2008.

Pagelaran semalam diramu sangat beragam, dimulai dari karya-karya Inggris dan Irlandia sampai dengan karya-karya bergaya Spanyol dan Amerika Latin.

Pagelaran dibuka dengan karya-karya komposer Romantik Inggris dan dilanjutkan dengan karya-karya Spanyol di petengahan babak pertama.

Pada karya Javier Busto dan Manuel Oltra asal Spanyol dapat dikatakan sebagai titik start paduan suara yang dibentuk di tahun 2004 ini. Dengan suara padu yang rapat secara harmonik, kekuatan paduan suara yang menjadi sentral sejak Kompetisi Paduan Suara Universitas Parahyangan tahun 2004 bangkit kembali.

Warna suara yang lembut bak beludru mengalun di tengah lantunan a cappella musik Spanyol yang cenderung menyala di tengah harmoni yang begitu rapat. Sepertinya Rainier banyak berkonsentrasi membentuk arus nada ini, dan hasilnya sungguh tidak mengecewakan. Penonton pun bersorak pertama kalinya setelah nada terakhir Esta Tierra dari Javier Busto sebagai tanda apresiasi mereka akan keindahan yang sungguh mengena pada rangkaian ini.

Pada bagian kedua konser, lagu-lagu tradisional Irlandia yang dibawakan. Namun aransemen yang dibawakan cukup atraktif seperti aransemen kelompok-kelompok Glee Club universitas. Nada-nada yang sederhana menjadi mengesankan karena dibungkus keriangan yang penuh variasi. Permainan perkusi Yaser Arafat pun turut mewarnai kesan Gaelik pada beberapa karya pada rangkaian ini.

Rangkaian lagu dari Amerika Selatan sebagai rangkaian terakhir dibawakan oleh The Voices. Kali ini The Voices menggandeng gitaris Wirya Satya Adenatya dan perkusionis Yaser Arafat untuk mengiringi dan memberi warna pada karya Argentina, Venezuela, Colombia dan Peru ini.

Perkusi diiringi gitar kali ini berfungsi sebagai penjaga ritme. Strum gitar yang cukup sederhana dibuat sedemikian rupa untuk mendukung paduan suara dan menambah kemeriahan yang diiringi tetabuhan. Nada-nada tradisional Amerika Latin pun terdengar nyata dalam pagelaran ini. Penonton pun selalu riang menyambut kemeriahan yang disuguhkan.

Keragaman menjadi kunci utama pagelaran “Love, Life” ini. The Voices pun berhasil menyajikannya dengan cukup baik. Namun stabilitas dalam penampilan harus dibangun lebih kokoh, baik dari segi intonasi, ritme, dan warna suara bersama. Apabila semuanya telah terbangun kokoh, niscaya penampilan dapat lebih memukau dan ekspresif. Keraguan eksekusi pun akan sirna dan musik pun akan jauh lebih menyentuh.

Namun, pagelaran The Voices Vocal Ensemble kali ini telah membuktikan kembali konsistensi ensembel ini dalam berkarya. Usia pun masih sangat muda, 4 tahun. Dengan konsistensi, rintangan dan kekurangan seberat apapun pasti akan teratasi.

Filed under: Choir, Classical music, Concert reviews , , , ,

6 Responses

  1. rerere says:

    gw juga nonton mike, tapi sayangnya gw telat hampir setengah jam karena hujan deras di rumah gw.

    menurut gw nothing really special ah dari konser ini. selengkapnya boleh baca di sini

    btw, gw baca review lu yang BMS dan baca review konser BMS di milis, gw jadi nyeseeel bgt ga nonton..

  2. rerere says:

    oh iya lupa, gw pinjem lagi fotonya yak..
    card reader gw lagi error soalnya. thanks

  3. mikebm says:

    re, milis yang mana yah? kalo boleh tau

    ya, monggo… dicuplik boleh… trimakasih juga atas acknowledgement tulisan dan fotonya.

  4. randz888 says:

    Mike gw nonton cuma lewat youtube…sedih…Ga bisa nonton nih. Lagi banyak ujian.

  5. panchita says:

    Terima kasih ya, mike, sudah mau hadir dan membuat ulasan dari konser “Love Life”.

    Terlepas dari segala kekurangannya, gw harap banyak yang cukup merasa terhibur–mudah-mudahan loe salah satunya. Karena apa gunanya konser kalau penontonnya gak terhibur.

    NB: Terima kasih juga buat ulasannya Difertimento waktu itu.

Leave a Reply

About A Musical Promenade

Sebuah foto denyut kehidupan musik klasik di dunia Timur, di Jakarta. Dari berbagai ulasan konser sampai seluk beluk benak dan masalah musisi di Ibukota...