Simfoni Terakhir Wina, Yazaki dan NSO 30 March 2008
Posted by mikebm in Classical music, Concert reviews, orchestra.Tags: balai sarbini, hikotaro yazaki, mozart, nso, nusantara symphony orchestra, schubert, strauss, Viva vienna
add a comment
Viva Vienna, Hidup Wina, adalah tajuk konser Nusantara Symphony Orchestra kemarin (Sabtu, 29/03) di auditorium markas mereka, Balai Sarbini, Jakarta. Pagelaran konser ini adalah konser perdana satu-satunya orkes profesional Indonesia di tahun 2008 ini.
Sesuai dengan tajuk, musik yang dibawakan orkes dengan sekitar 55 orang musisi itu merupakan karya komposer-komposer yang berkarya di ibukota Austria yang menjadi pusat kebudayaan Eropa di abad 18-19. Satu overture dan dua karya simfoni menjadi agenda pagelaran seperti lazimnya sebuah konser simfonik di berbagai belahan dunia.
Namun ada sebuah tema tersembunyi dari karya simfonik yang dipersembahkan malam itu. Tema tersebut adalah bahwa dua simfoni yang ditampilkan adalah karya simfoni terakhir dari masing-masing komposer, menunjukkan kematangan terakhir masing-masing komposer tersebut.
Yang Sehat, Yang Berpetualang 28 March 2008
Posted by mikebm in Art, Classical music, Concert/Recital, Opinion.Tags: mentalitas musik klasik, musisi
1 comment so far
Menyaksikan langsung perkembangan musik di Jakarta dalam beberapa bulan terakhir dengan mengenakan kacamata pengamat, sungguh perkembangan musik menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan.
Dan tanda-tanda itu adalah tanda-tanda sehat. Musik klasik di Jakarta dalam keadaan sehat. Konser mungkin tidak menggunung, tetapi dari penggalan pagelaran mengindikasikan kesehatan berseni musik.
Sebenarnya banyak tanda yang dapat diamati pecinta musik, namun tanda ini salah satu tanda yang paling penting dalam memantau kesehatan berseni. Gejala itu adalah gejala petualangan.
3000 Hits, Right After 4 Months 26 March 2008
Posted by mikebm in Renungan.5 comments
3000 hits after four months is really exciting.
Before, I was just sharing my experience in concerts, wrote them down just to practice my music writing. Then, I didn’t care whether people would read it or not. As long as I concerned, the blog was just to remind me of concerts I attended.
But now, this blogging thing has gotten into me. It has become a media for to contribute to the development of music, in a way or another. I know that it is an extremely small contribution, but at least I took my first step and not regretting it since.
Because of this A Musical Promenade blog, I learn to read and learn more about music world out there. Spent time reading articles and blogposts. Hopefully I can maintain this blog by releasing at least 2 writings a week. *cross-my-fingers*
But above all, I thank God for providing me the time to write and read. And of course I thank you all readers who are willing to spend time to read my writing and drop comments to make this blog more colorful. Thanks K’ Aisha for the wonderful Virgil Thompson book, still haven’t finished reading it (1 article a time, K’ hehehe).
By the way, I am so sorry if my English is not that sufficient to write anything… still trying….
~ 35 posts and counting. So, what am I going to write next? A whole new adventure? Hmm… lets see.
Picture:
http://www.fjordtravel.no/images/fjords/geiranger/cruise_on_the_fjord.jpg
Interact, Small Halls, Make Use of It! 24 March 2008
Posted by mikebm in Concert/Recital, Music, Performance Venues, rehearsal.Tags: berbicara dalam konser, concert hall, gedung konser, menonton, pemusik, speak in concert
2 comments
Yes, we have relatively small concert halls in Jakarta. Most of them are classified as ‘off-Broadway’ which is filled between 100 to 499 seats. Let’s not be grumpy about it.
The most disappointing thing is that most of the musicians here doesn’t make use of the advantages of these small halls. Because eventhough they are relatively small, there certainly are advantages which are frequently forgotten by musicians performing in these venues.
Opera, Beralih dari Panggung ke Layar Lebar 19 March 2008
Posted by mikebm in Classical music, Information, Opera.Tags: HD in Live, Metropolitan Opera, Peter Gelb
add a comment
Baru beberapa tahun terakhir opera mulai mendapat tempat baru di hati masyarakat Amerika dan Eropa, di layar lebar. Inilah metode baru yang dibawa Peter Gelb, general manager Metropolitan Opera New York semenjak tahun 2006.
Sebelumnya Gelb menjabat Classical Director di perusahaan rekaman besar dunia Sony, suatu posisi yang menempatkannya di ujung tombak musik klasik dan perkembangan teknologi.
Menurutnya kala itu, metode baru ini akan meningkatkan popularitas opera di mata publik Amerika. Dan ternyata memang berhasil menarik simpati ke pada seni pertunjukan opera.
Opera sudah mondar-mandir di televisi selama lebih dari 50 tahun. Banyak opera sudah diproduksi di panggung maupun studio untuk ditayangkan di kotak kaca. Legenda-legenda opera pun sering tampak memerankan tokoh-tokoh opera di televisi, yang DVDnya saat ini tersedia di Amazon maupun lapak Mangga Dua.
Namun untuk layar lebar tampaknya belum terpikir oleh banyak manager opera dunia. Bila mana tidak, siapa yang ingin menyaksikan tokoh opera di layar bioskop? Jarang.
Meskipun demikian Gelb berhasil mengubah pandangan banyak orang tersebut, dan menjadikannya contoh bagi industri opera di dunia, termasuk Eropa yang notabene adalah negara asal seni tersebut.
Bermanuver Indah di Antara Ekstrim 17 March 2008
Posted by mikebm in Choir, Classical music, Concert reviews.Tags: Avip Priatna, Batavia Madrigal Singers, Goethe Haus, Spiritual Journey
6 comments
Kalimat doa dalam bahasa Latin dipanjatkan. Nyanyian rohani dikumandangkan mewarnai Hari Minggu terakhir menjelang masa Paskah yang akan diperingati umat Kristiani. Itulah sepenggal kata yang menggambarkan secara umum konser Batavia Madrigal Singers pada Minggu (16/3) kemarin.
Batavia Madrigal Singers atau biasa dikenal dengan BMS pada konser sore hari itu dipimpin oleh pendiri sekaligus direktur musiknya Avip Priatna. Sesuai dengan tajuk konser Spiritual Journey, BMS kala itu membawakan karya-karya musica sacra yang kesemuanya ditulis pada abad XX dan XXI.
Menyaksikan Eksplorasi Suara Pianistik Kontemporer 14 March 2008
Posted by mikebm in Classical music, Concert reviews.Tags: Chamber Music Festival Indonesia, Ellen Corver, Erasmus Huis, Extended piano, komposisi modern
5 comments
Jika kita berpikir bahwa piano hanya berdenting, kita sudah ketinggalan zaman. Pendapat ini dibenarkan oleh permainan Ellen Corver di Erasmus Huis kemarin (12/3) ketika membawakan karya 6 orang komposer.
Chamber Music Festival Indonesia 2008 yang menaungi pagelaran malam itu mengetengahkan program yang dapat dikatakan sangat berani. Hampir semua karya yang ditampilkan malam itu adalah karya modern yang jarang terdengar di Jakarta.





