A Musical Promenade

Icon

walking down the path of love & life

Sekarangkah Reformasi Industri Musik?

Menerawang dari http://www.scena.org/columns/lebrecht/080123-NL-future.html dan banyak artikel dari media luar negeri (nytimes.com) maupun dalam negeri

Sepertinya industri rekaman dunia baru saja menyadari bahwa mereka telah menjadi sasaran empuk sebuah industri lain, industri digital dan koneksi digital. Dan sebagai pertanda buruk yang akan dihadapi Indonesia, industri musik di Amerika Serikat sudah mulai berjatuhan. Hal ini bisa terjadi karena lahirnya banyak produk teknologi yang semakin membuka kebebasan informasi, termasuk produk musik itu sendiri.

cd.jpg

Industri rekaman setelah lebih dari seabad merajai belantika musik ternyata mulai meredup dan kelabakan. Dan yang terjadi akhirnya malah industri musik menyerang konsumennya sendiri. Menuntut mereka atas kejahatan yang sebenarnya agak tidak masuk akal atas alasan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Contoh yang dapat diambil yaitu pembeli rekaman tidak boleh mengkopi file musik yang ia miliki secara legal, meskipun untuk dipakai sendiri. Industri mulai memaksa bahwa hak yang kita beli melalui toko kaset/CD adalah hanyalah satu buah kopi distribusi, dan hanya memiliki hak putar rekaman untuk pribadi saja.

Akhrinya yang terjadi adalah industri musik menjadi musuh bagi penggemar musik. HAKI menjadi senjata untuk melawan konsumen sendiri, melawan hak-hak yang dipercaya konsumen sejak zaman dahulu, bahwa produk yang ia beli dapat ia bagikan ataupun berikan pada orang lain (sahabat) selama tidak diperjualbelikan secara komersial. Bahkan artikel di atas menulis bahwa, satu universitas akan dituntut karena banyak mahasiswanya berbagi file musik melalui iTunes. A little bit bizarre? Yes.

Saya pribadi meramalkan bahwa, walaupun disinyalir sebagai perbuatan kriminal, tindakan membagikan musik seperti ini pada akhirnya akan menjadi kegiatan yang sepenuhnya legal. Dan yang mungkin terjadi bahwa akan terjadi pergeseran nilai dari rekaman itu sendiri.

Saat ini rekaman seringkali dianggap sebagai produk akhir dari suatu kegiatan bermusik. Semuanya akan dilakukan untuk mendukung terjualnya rekaman album, mulai dari konser promo, jumpa pers sampai dengan tur keliling dunia. Semua dilakukan untuk menjual rekaman, sampai-sampai prestasi seorang artis diukur dari banyaknya jumlah rekaman yang ia jual.

Pergeseran yang mungkin terjadi adalah bahwa kita akan mengulang periode seabad yang lalu. Rekaman akan kembali menjadi pelengkap dari industri musik, bukan primadonanya. Rekaman yang lebih bersifat statis itu akan dibeli hanya sebagai media pengingat, dan karena dengan mudahnya dibagikan akan jauh drastis nilainya. File rekaman kemudian akan menjadi seperti selebaran brosur/poster yang dibagikan oleh orang-orang untuk membeli sesuatu yang lain. Bisa disimpan apabila Anda mau, dibuang kalau Anda tidak tertarik.

Lalu apa yang bakal menjadi primadona industri musik? Jawabannya adalah pagelaran live, konser langsung. Karena semua orang dapat dengan mudah mendapatkan rekaman yang generik, pasar malahan akan mencari pengalaman yang sebenar-benarnya. Orang-orang yang sekarang lebih rela merogoh kantong untuk membeli rekaman akan lebih rela merogoh kantong untuk membeli tiket konser live artis favorit mereka. Mereka rela mengeluarkan uang untuk melihat aksi langsung dari musisi di atas panggung. Sedangkan rekaman adalah alat yang digunakan para musisi untuk menjual tiket konser, semacam trailer konser.

Live concert

Pergeseran nilai seperti inilah yang akan mengubah paradigma pasar. Pasar akan cenderung membeli barang yang berbeda dan memiliki arti khusus. Pasar musik akan jenuh dengan produk yang mudah didapatkan, murah, dan persis sama satu dengan yang lain. Mereka malah akan membeli spontanitas dari musisi di atas panggung, beserta dengan ketidaksempurnaannya daripada membeli kesempurnaan dari rekaman studio.

Spontanitas yang dibeli itu adalah momen istimewa yang tidak dapat diulang walau sekali dalam seumur hidup dan mungkin lebih berharga dari kestatisan rekaman studio. Dan untuk momen spesial itulah orang akan lebih mau mengeluarkan uangnya. Akhirnya bisnis musik akan berubah dan pendapatan musisi akan bertumpu dari cara bagaimana ia mengemas pertunjukan langsungnya, sedangkan rekaman hanya menjadi penghasilan tambahan. Apakah dengan pertunjukan langsung? Melalui jaringan dengan akses terbatas? Ataukah dengan media modern di masa depan?

Suatu hal yang aneh? Aneh tapi sangat mungkin terjadi. Simak saja industri musik 40 tahun ke depan.

~setelah diskusi dengan Cybill, fenomena ini sepertinya sulit terjadi tapi siapa tahu?

Filed under: Art, Music, Opinion, music media , , , , , ,

11 Responses

  1. ry says:

    kayaknya susah deh Mike, walau bukannya tak mungkin.. mungkin ada solusi lain such as NSP (walau ini jg sptinya ga signifikan sih)..

    “thriller konser” –> maksudnya trailer ya?

  2. mikebm says:

    …. trailer iya salah tulis…. gw perbaiki ya…. Agaknya postingan ini terlalu kontroversial ya…

    thank ya ry udah dateng ke blg gw…

  3. jadi ingat teman gue yang audiophilie di Australia. Dia paling kesal kalau masuk ke toko CD, mencari lagu klasik, lalu penjaga tokonya merekomendasikan CD-CD tertentu.

    Bukan napa-napa,
    seringkali, si penjaga toko, pengetahuannya kurang. Paling banter, pengetahuan si penjaga toko cuma sampai judul lagu dan penciptanya.

    Sementara, karena teman gue perfeksionis, tiap kali mencari CD pasti dia sampai mencari informasi di manakah musiknya direkam, kapan kah musiknya direkam, siapakah konduktornya, orkestra manakah yang memainkan dsb. Dia sampai hapal sejarah tempat rekaman musik orkestra begitu.

    Mungkin kalau buat teman gue,
    paradigma bergeser seperti itu mungkin akan jadi menarik. Tapi kan gak semua orang se-freak teman gue. Yang datang ke konser saja, kadang kala hanya untuk ‘ketemu bintang’. Jadi biarpun bintangnya cuma nyanyi lipsync (alias tanpa spontanitas), mereka tetap akan datang.

  4. mikebm says:

    nah, that is one of the things that will make going to concert booming.

    tapi menurut gw orang jadi lebih banyak mau ngerti musik (in general) after adanya teknologi seperti sekarang ini. aksesnya jadi sangat super mudah…

  5. meltarisa says:

    Sepertinya pergeseran itu sangat mungkin terjadi, menurut gw.
    Walaupun penilaian seorang musisi dari suatu statistik tertentu, misalnya jumlah penjualan rekamannya, gak akan ‘hilang’, sih.

    Pertunjukkan langsung, sebenarnya, sudah banyak menyita perhatian penikmat musik. Ya, gak usah yang ’serius’ peduli, yang datang ke konser untuk ‘ikut2an’ ataupun ’si musisi ganteng/cantik’ itu cukup banyak untuk mendukung berkembangnya pasar yang menekankan pada ‘live action’. Animo masyarakat yang tinggi pada acara2 TV macam Mamamia, American Idol, atau Indonesian Idol (yah, yang idol2 itu lah. hehe) bisa dibilang mencerminkan hal tersebut (penampilan tersebut kan kurang lebih ‘limited edition’, walaupun thanks to YouTube, we got to watch some of it again and again).

    Yang perlu dicatat, mungkin, adalah efeknya bagi industri musik Indonesia yang sekarang ini mengandalkan teknik ‘kamuflase’. Kasarnya, jarang ada bintang (perhatikan bahwa gw menolah menggunakan kata musisi) Indonesia yang siap tampil live. Kalaupun iya, cukup banyak yang lipsync atau sekedar minus one. Di Jepang, Korea, dan ‘dunia barat’, artisnya sih siap2 aja, menurut gw, untuk bersaing seperti itu. Mereka cukup terbiasa untuk menyajikan sesuatu yang inovatif dalam penampilan langsung mereka (konsernya keren2 euy!). Mungkin yang akan repot lagi itu promotornya, hehe. Kan ribet juga ngurusin giliran konser kalau semua artis mau konser lantaran penjualan rekaman gak menguntungkan lagi? Trus, kita juga loh.. Live action itu kan ga murah (curhat ttg harga tiket suatu pagelaran musik yang akan datang yang harganya mencekik leher). :)

    Terima kasih ya, saya boleh cuap2 di sini.
    O ya, waktu kritik terhadap live action di paragraf tiga itu berlaku untuk pelaku musik mainstream sih, terutama. :)

  6. mikebm says:

    sepakat banget mel… apalagi paragraf 3…

  7. pongo_xmts says:

    kayanya masih jauh ya kearah situ, walaupun itu cukup mungkin terjadi.

    klo gw liat sih, kebanyakan aktivitas audio file sharing itu kan terjadi di internet, dan kebanyakan org2 di internet itu berpendidikan, jd sebenernya di antara mereka jg ada perasaan kewajiban moral untuk membeli original walaupun mereka sendiri memiliki file2 .mp3-nya. Slogan “support the artist by buying the original” yang sudah banyak tersebar di forum dan blog2 yg menyediakan unduhan berkas musik dijital, sebenarnya jg merupakan indikasi akan awareness para pelaku audio file sharing untuk mengatasi masalah kian terdijitalisasinya industri musik.

    Dan lagi mp3 dan CD Audio original belum bisa diperlakukan sebagai sesuatu yang sama. CD kualitas suaranya lebih bagus, packagingnya lebih oke (cover,etc), ada perasaan closeness terhadap artis yang dia sukai, ada pride setelah berhasil membelinya (apalagi klo limited edition). Mp3? paling cuman pride karena bisa donlot sebelon officially released aj.. ;p

    All in all, hasil rekaman masih layak diposisikan sebagai ujung tombak industri musik.

  8. Melita says:

    Eh,
    gw kembali ke sini karena teringat suatu fenomena yang berkaitan dengan tulisan ini dan komen gw yang gw berikan sebelumnya.

    Kalau dipikir2, pertanyaan implisit yang tercetus dalam tulisan lo, Michael, mirip dengan beberapa selentingan mengenai kemungkinan tergantinya media cetak oleh media elektronik. Hal tersebut mengacu pada kemungkinan ‘habisnya’ buku oleh bacaan elektronik (di internet). Dulu orang harus mencari dan membaca berbagai macam buku untuk melahap informasi, sekarang dengan adanya internet sebagai sumber informasi yang cukup lengkap dan bervariasi (seperti yang diiklankan di tipi2). Banyak orang meramalkan buku gak akan laku lagi karena kurang efektif dan efisien. Menurut gw, sentimen yang ada dalam buku tidak akan tergantikan oleh hadirnya pustaka internet. Hal ini mungkin berkaitan dengan apa yang disebut pongo sebagai “closeness terhadap artis yang dia sukai” kalau mengacu pada fenomena serupa (buku versus internet dan file rekaman versus, kurang lebih, internet).

    Tapi gw tetap berpandangan bahwa perubahan paradigma pasar itu sangat mungkin terjadi kok! Bagaimanapun, sejujurnya lebih asyik menyaksikan live action dari si musisi tercinta. Apalagi kalo dia memang punya ciri berpenampilan ‘khas’. Hehe. Cuma menekankan kalimat kedua komen gw sebelumnya : file rekaman kongkrit sih, gak akan berhenti ada.

  9. mikebm says:

    pongo: thanx berat atas commentnya… tapi ternyata trend download yang sudah menjamur ke mana2 sudah mengancam lhow… ada berita baru dari the Independent, UK.

    melita: iya, gw melihat ini karena ada pangalaman membahas soal traditional learning vs e-learning yang akhirnya tidak dimenangkan siapa-siapa. At the end of the day, e-learning is just another means of learning… mungkin ini juga yang terjadi di industri rekaman? who knows?

  10. mikebm says:

    I’m extremely happy…. Baru saja ada tulisan serupa dari penulis di Kanada…. Bands Find Gold Mine In Concerts dari Toronto Star… DAN gw lebih cepet 1 bulan….

    Senang aja ternyata ini bukan sekedar pemikiran asal-asalan sendiri….

  11. [...] as gigantic as the ones before because the lesser role they play in the business as I predicted in this post, as live performances are regarded more than [...]

Leave a Reply

About A Musical Promenade

Sebuah foto denyut kehidupan musik klasik di dunia Timur, di Jakarta. Dari berbagai ulasan konser sampai seluk beluk benak dan masalah musisi di Ibukota...